Senin, 07 April 2014

SI HITAM YANG MENYERAMKAN


SI HITAM YANG MENYERAMKAN


1.        Latar Belakang
Sampah merupakan masalah yang selalu muncul di lingkungan kita. Karena setiap hari manusia selalu menghasilkan sampah. Permasalahan sampah ini bukan hanya terjadi di Indonesia tetapi terjadi pada setiap negara. Oleh karena itu, setiap negara mempunyai cara masing-masing untuk meminimalisir sampah yang ada, bahkan memanfaatkan sampah tersebut.
Pemanfaatan sampah tersebut sangatlah beragam. Contohnya dari sampah organik dapat dibuat pupuk yang bermanfaat untuk tumbuhan. Sampah organik ini apabila dibiarkan begitu saja akan membusuk dan akan mengganggu masyarakat. Sampah anorganik adalah sampah yang tidak dapat di urai. Dan sampah anorganik ini dapat dimanfaatkan menjadi karya seni atau didaur ulang. Namun, pada kenyataannya tidak dapat dipungkiri ada masyarakat yang acuh tak acuh terhadap hal tersebut, sampah anorganik yang mereka hasilkan biasanya di bakar.
Kebiasaan membakar sampah sudah lama di lakukan manusia, baik saat membuka lahan baru untuk pertanian, atau membersihkan sampah dari halaman rumah. Kebiasaan ini dilakukan manusia sebagai cara tercepat dalam menyelesaikan masalah sampah yang menumpuk.
Akan tetapi, tanpa disadari kebiasaan membakar sampah ini menciptakan masalah baru, yaitu membakar sampah dapat meracuni orang di sekitar kita. Masalah tersebut sesungguhnya dapat menciptakan rantai bencana yang tak bisa diatasi yang pelan tapi pasti menjadi bencana yang besar di masa mendatang. Sebab, dengan membakar sampah dengan cara yang tidak benar akan merusak kualitas udara bumi kita. Sehingga berdasarkan pemaparan di atas penulis sangat tertarik untuk membahas hal-hal tersebut dan  tentunya penulis ingin berbagi ilmu bagaimana menangani sampah khususnya sampah plastik. Pembahasan tersebut penulis paparkan dalam sebuah tulisan yang berjudul “ Si Hitam yang Menyeramkan”. Si Hitam dalam judul ini menganalogikan asap yang di hasilkan dari pembakaran sampah yang tidak benar.

2.        Pembahasan
a.      Kenapa Si Hitam Menyeramkan?
Sampah memang unik. Mengapa ? Karena dengan sampah kita bersahabat dan dengan sampah pula kita bisa berseteru. Demikian pula dengan kebiasaan membakar sampah yang masih menjadi kebiasaan banyak orang. Selain cepat, cara ini juga dianggap hemat untuk mengurangi sampah atau benda yang ingin dihilangkan. Padahal cara tersebut memiliki sejumlah bahaya bagi manusia maupun lingkungan. Berikut ini enam fakta berbahaya dari aktivitas membakar sampah:
1.      Membakar sampah dengan cara yang tidak benar akan menciptakan CO2 (karbondioksida) yang tentunya dapat mengganggu kinerja hemoglobin atau sel darah merah yang berfungsi mengedarkan O2 (oksige) keseluruh tubuh. Jika tubuh kekurangan pasokan O2, maka tubuh akan menjadi lemas dan tidak menutup kemungkinan akan menyebabkan kematian.
2.      Asap dari pembakaran sampah plastik akan menghasilkan senyawa kimia dioksin dan fosgon yang sangat beracun.
3.      Hasil pembakaran sampah yang mengandung klorin dapat menghasilkan 75 jenis zat beracun lain.
4.      Asap dari pembakaran sampah mengandung benzopirena (gas beracun penyerang jantung) sebanyak 350 kali. Zat ini ditengarai sebagai biang keladi penyebab kanker.
5.      Membakar kayu juga dapat menghasilkan senyawa yang mengakibatkan kanker. Sedangkan melamin dapat menghasilkan formaldehida (formalin) bila dibakar dengan suplai oksigen yang banyak atau HCN (asam sianida).
6.      Pembakaran sampah di area terbuka dapat menghasilkan partikel debu halus yang tidak dapat disaring oleh alat pernafasan manusia, sehingga bisa masuk ke paru-paru dan mengakibatkan gangguan pernapasan.

b.   Hindari Si Hitam
Seperti yang telah dipaparkan di atas jika menangani sampah dengan cara dibakar, hal tersebut tidak dapat menyelesaikan masalah bahkan akan menimbulkan masalah baru yang tentunya akan berdampak negatif bagi kehidupan. Membiarkan sampah dan limbah membusuk, jelas bukan sikap yang bijak, karena selain mengganggu keindahan dan kesehatan lingkungan, sampah dan limbah juga menimbulkan berbagai dampak negatif antara lain: 1. Menjadi sarang hama penyakit, 2. Dapat mengeluarkan salah satu gas rumah kaca (GRK) penyebab pemanasan global, 3. Mengganggu saluran air yang menyebabkan terjadinya banjir, 4. Menimbulkan polusi udara, dan sebagainya. Jadi, apa yang harus kita lakukan untuk menanggulangi permasalahan sampah?
Untuk menjawab pertannyaan di atas, maka harus ada solusi yang mampu mengendalikan sampah terutama sampah plastik. Mungkin cara membakar untuk mengatasi permasalahan sampah di Indonesia sulit dihindari, namun ada cara lain yang bisa kita lakukan sebagai alternatif untuk mengurangi permasalahan tersebut. Cara yang ditawarkan dalam karya tulis ini adalah dengan merebus sampah plastik plus mengkreasikannya.
Mengapa harus direbus? Pada pemaparan di atas telah dijelaskan jika plastik memiliki senyawa yakni zat dioksin dan klorin. Zat dioksin dan klorin adalah zat yang terdapat dalam plastik yang menyatu dengan zat lainnya sehingga sulit untuk diuraikan. Oleh sebab itu, menurut para ahli dari Jepang pengelolaan sampah plastik yang mengandung kedua zat berbahaya tersebut, yakni dengan menggunakan air panas. Dengan menggunakan air panas, senyawa  dioksin dan klorin akan berubah menjadi garam. Dari proses itu, garam itu dapat dibuang karena larut dalam air sehingga dioksin dan klorin hilang. Setelah dioksin dan klorin hilang pada sampah, maka tindakan selanjutnya adalah mengkreasikan sampah plastik tersebut menjadi benda yang dapat digunakan. Sudah banyak  kreasi-kreasi daur ulang sampah plastik yang kita temukan di pasaran, mungkin hal tersebut dapat dijadikan contoh untuk menumbuhkan ide-ide baru dalam berkarya.

3.        Simpulan dan Saran
a.    Simpulan
Berdasarkan pemaparan di atas, maka ada beberapa simpulan yang dapat diambil, yaitu:
a.    Membakar sampah merupakan langkah yang sangat tidak bijaksana dalam menangani permasalahan sampah disekitar kita.
b.    Membakar sampah akan mencemari udara, karena asap yang dihasilkan dari proses pembakaran yang tidak benar akan menghasilkan zat-zat kimia yang berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan makhluk hidup.
c.    Merebus sampah dapat menghilangkan zat-zat kimia berbahaya yang terkandung dalam sampah plastik.
d.   Mengkreasikan sampah menjadi barang-barang yang bernilai ekonomi merupakan salah satu solusi alternatif mengatasi masalah sampah yang aman.

b.        Saran
Hindari membakar sebagai pilihan untuk mengatasi masalah sampah. Mari kita berpandangan bahwa sampah dapat menghasilkan rupiah dengan cara mengkreasikan sampah menjadi barang-barang yang bernilai ekonomi. Sampah bukanlah musuh tapi sampah adalah sahabat.
               

SAMPAH PLASTIK GAK ASIK?


SAMPAH PLASTIK GAK ASIK?



A.      Sampah dan Sekolah
Masalah sampah dilingkungan sekolah bukanlah hal baru, banyak sekali metode dan strategi-strategi yang diterapkan oleh pihak sekolah untuk mengatasi permasalahan tersebut, namun kenyataannya, hal tersebut masih saja menjadi momok yang membuat pusing. Mungkin disebagian besar sekolah telah menerapkan pembuatan kompos untuk mengatasi permasalahan sampah organik, akan tetapi, permasalahn baru timbul, yaitu adanya sampah yang tidak dapat didaur menjadi kompos atau sampah anorganik.
Sampah anorganik merupakan sampah yang sangat berbahaya di sampaing proses pembuatannya yang menggunakan bahan-bahan kimia yang dapat berdampak buruk terhadap kesehatan, sampah anorganik juga membutuhkan waktu yang lama dalam proses penguraian alami atau penguraian yang dilakukan oleh alam itu sendiri, sehingga dapat memncermari lingkungan. Salah satu sampah anorganik yang selalu menjadi masalah terutama dilingkungan sekolah adalah sampah plastik. Dari hasil pengamatan, sumber terbesar sampah plastik biasanya dihasilkan dari kantin sekolah, baik itu berupa pembungkus snek, pipet minuman, botol-gelas minuman mineral, dan yang paling banyak adalah sampah plastik minuman es.
Maka berdasarkan pemaparan masalah di atas, penulis mencoba menuangkan ide melalui karya tulis ilmiah dengan judul “Sampah Plastik Gak Asik?”. Dalam karya tulis ini penulis ingin memberikan sebuah solusi alternatif sebagai upaya menekan dan meminimalisir penggunaan plastik terutama dikalangan pelajar. Sehingga permasalahan yang dapat dirumuskan adalah “bagaimana cara menanggulangi sampah plastik dan bagaimana cara meminimalisir penggunaan plastik dikalangan pelajar.”

B.  Tentang Sampah
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sampah adalah barang atau benda yang sudah tidak terpakai lagi. Menurut jenisnya sampah dibagi menjadi dua, yaitu sampah berdasarkan sumbernya dan sampah berdasarkan sifatnya.
Sampah berdasarkan sumbernya terdiri dari sampah alam, sampah manusia, sampah konsumsi, sampah pertambangan dan sampah industri, serta sampah nuklir. Sampah alam adalah sampah yang diproduksi di kehidupan liar yang daur ulangnya diproses secara alami, seperti daun-daun kering terurai menjadi tanah. Sampah manusia (Inggris: human waste) adalah istilah yang biasa digunakan terhadap hasil-hasil pencernaan manusia, seperti feses dan urin. Sampah konsumsi merupakan sampah yang dihasilkan oleh (manusia) pengguna barang, dengan kata lain adalah sampah-sampah yang dibuang ke tempat sampah. Ini adalah sampah yang umum dipikirkan manusia. Meskipun demikian, jumlah sampah kategori ini pun masih jauh lebih kecil dibandingkan sampah-sampah yang dihasilkan dari proses pertambangan dan industri. Sampah pertambangan dan industri merupakan limbah yang dihasilkan dari sebuah proses bahan mentah menjadi bahan jadi, sedangkan sampah nuklir merupakan hasil dari fusi nuklir dan fisi nuklir yang menghasilkan uranium dan thorium yang sangat berbahaya bagi lingkungan hidup dan juga manusia. Oleh karena itu, sampah nuklir disimpan ditempat-tempat yang tidak berpotensi tinggi untuk melakukan aktifitas tempat-tempat yang dituju biasanya bekas tambang garam atau dasar laut (walau jarang namun kadang masih dilakukan).
Sampah berdasarkan sifatnya terdiri dari sampah organik dan sampah anorganik. Sampah organik adalah sampah yang berasal dari daun-daunan yang mudah mengalami daur ulang, sedangkan sampah anorganik adalah sampah yang terdiri dari unsur yang tidak dapat diposes secara alami sehingga membutuhkan campurtangan manusia untuk mendaur ulang.

C.      Plastik Sampah Anorganik yang Berbahaya , Why?
Plastik merupakan wadah yang sering digunakan sebagai pembungkus. Selain ringan, praktis pun sering menjadi alasan utama penggunaannya. Namun, tidak disadari dibalik semua hal tersebut ternyata terdapat fakta yang sungguh mencengangkan. Sampah plastik ternyata membutuhkan waktu yang sangat lama dalam proses penguraiannya, yaitu sekitar 1000 tahun. Akan tetapi, permasalahn tidak selelai sampai disitu, sebab partikel-partikel plastik yang telah diuraikan masih bisa mencemari tanah dan air tanah.
Selain itu, plastik dikatakan berbahaya karena biasanya plastik merupakan produk daur ulang yang bisa saja berasal dari bungkus pestisida, limbah rumah sakit, limbah logam berat, bahkan dari kotoran manusia. Dan juga dalam proses pembuatannya, polivinilklorida (PVC) yang merupakan bahan dasar kantong plastik ditambahkan penstabil senyawa timbal, timah putih, kadnium, residu, dan bahan berbahaya lainnya bagi kesehatan. Bahan-bahan tersebut mengakibatkan berbagai macam penyakit, seperti kangker hati dan paru-paru, dapat meracuni ginjal dan sistem saraf, dapat mengganggu sistem endokrin, dan penyakit lainnya



D.      Menekan Jumlah Sampah Plastik di Sekolah
Pertannyaan yang sering terpikirkan bahkan terucap tentang sampah plastik pada masyarakat sekolah adalah bagaimana cara mengurangi jumlah sampah plastik di lingkungan sekolah? Nah dalam karya tulis ini saya (penulis) memberikan beberapa upaya yang dapat dilakukan di sekolah untuk menekan atau mengurangi dampak sampah plastik. Upaya tersebut adalah sebagai berikut:
1.        Melakukan Gemas Mengamplas.
Gemas Mengamplas merupakan akronim dari Gerakan Massal Mengelolah Sampah Plastik. Gerakan yang dimaksud adalah menuangkan kreatifitas warga sekolah baik guru maupun siswa dalam menciptakan sebuah kreasi dari sampah plastik, sehingga memiliki nilai ekonomis. Adapun benda-benda yang dapat dikerasikan dari sampah plastik adalah tas, dombet, bak sampah, tas laptop, dan lain-lain.
2.        Melakukan gerakan “ini wadah gue, mana wadah lho?”
Seperti yang telah dipaparkan di atas bahwa sampah plastik yang paling dominan ditemukan di lingkungan sekolah adalah sampah plastik minuman es. Nah, gerakan “Ini wadah gue, mana wadah lho?” dirasa sangat cocok untuk menanggulangi permasalahan tersebut, sebab gerakan ini menyuruh siswa bahkan guru membawa wadah sendiri dari rumah, sehingga ketika siswa atau guru ingin membeli es, maka wadah es yang semulanya menggunakan plastik sekali pakai diganti dengan wadah yang dibawan dari rumah masing-masing. Tentunya wadah tersebut merupakn wadah yang dapat digunakan berulang kali.
Selain wadah temapat minum, warga sekolah juga dianjurkan untuk membawa piring, dengan kata lain satu orang membawa satu piring, tujuannya adalah untuk mengurangi sampah plastik yang dihasilkan dari bungkusan makan berat seperti bungkusan cilok, bingkusan gorengan dan lain sebagainya. Dengan mengganti plastik sebagai wadah makan tersebut dengan piring yang dibawa tentunya akan memberikan dampak yang sangat nyata bagi pengurangan sampah plastik itu sendiri.
3.        Melakukan kerjasama dengan pengepul plastik
Selain kedua langkah di atas, maka langkah yang ketigalah yang paling sederhana. Warga sekolah menggandeng atau berkerjasama dengan Pengepul barang plastik, sehingga uang yang dihasilkan dari sampah plastik yang terjual dapat dimanfaat untuk kepentingan sekolah, misalanya untuk membeli peralatan kebersihan.

E.       Simpulan dan Saran
Sampah plastik merupakan sampah yang sangat berbahaya, selain penguraian yang memakan waktu lama sampah plastik juga terbuat dari bahan- bahan berbahaya sehingga dpat mengancam kesehatan. Selain itu sampah plastik juga memberikan dapmpak yang buruk bagi tanah dan air tanah.
Tiga upaya yang ditawarkan dalam karya tulis ini dirasa sangat membantu dalam menekan atau mengurangi sampah plasti terutama di lingkungan sekolah. Dengan adanya gerakan Gemas Mengaplas ini warga sekolah akan bahu membahu menciptakan sebuah karya yang tentunya dapat dimanfaatkan. “ Ini wadah Geu, Mana Wadah Lho?” juga merupakan gerakan yang sederhana namun memberikan dapapak yang signifikan dalam menekan jumlah sampah plastik yang berada dilingkungan sekolah. Sedangkan Berkerjasama dengan Pengepul merupakn alternatif solusi mengatasi permasalahan sampah plastik yang menguntungkan, sebab dengan berkerjasama dengan pengepul plastik tentunya akan merubah sampah menjadi uang, sehingga uang tersebut dapat dimanfaat untuk keperluan kebersihan sekolah.
Saran yang dapat penulis sampaikan adalah mari kita bersama-sama mengontrol penggunaan plastik. Gunakan wadah yang dapat digunakan sebagai pengganti plastik, dan tentunya dapat dugunakan berulang-ulang.  Salamatkan bumi, selamtakan masa depan.





LIMBAH REZEKIKU


A.  Pendahuluan

Lingkungan yang bersih dan indah merupakan dambaan semua orang. Namun, kenyataan yang ada pertambahan jumlah penduduk yang terus meningkat berakibat pada tingginya tingkat pencemaran oleh berbagai limbah. Limbah dapat diartikan sebagai sisa-sisa hasil pengolahan pabrik ataupun manusia yang mengandung zat kimia berupa sampah. Limbah-limbah ini dapat menimbulkan polusi serta mengganggu kesehatan. Atau dengan kata lain, limbah adalah zat atau bahan buangan yang dihasilkan dari proses kegiatan manusia.  Limbah-limbah tersebut dapat berupa tumpukan barang bekas, sisa kotoran hewan, tanaman, atau sayuran.
Jika jumlah limbah terus meningkat akan berdampak negatif bagi keseimbangan lingkungan. Hal ini disebabkan karena lingkungan memiliki ambang batas toleransi terhadap limbah. Apabila konsentrasi dan kuantitas limbah melebihi ambang batas, akan berakibat pada terganggunya keseimbangan alam, terancamnya makhluk hidup tertentu bahkan dapat berdampak negatif bagi kesehatan manusia.
Ada beberapa sumber limbah yang biasa dijumpai dalam kehidupan sehari-hari seperti limbah industri, limbah pertanian dan limbah rumah tangga. Dari ketiga sumber limbah tersebut yang paling mendominasi adalah limbah rumah tangga. Limbah rumah tangga dikatakan mendominasi karena tanpa kita sadari semua kegiatan yang kita lakukan dirumah baik mencuci, memasak, mandi bahkan makan sekalipun hampir semuanya mempunyai sisa buangan yang berupa limbah. Limbah yang dihasilkan dari aktivitas-aktivitas tersebut ada yang berbentuk cairan, padat maupun gas. Limbah-limbah ini jika dibiarkan menumpuk terus menerus akan berpengaruh buruk terhadap lingkungan dan kesehatan individu maupun masyarakat umum.
Banyaknya limbah yang dihasilkan dari kegiatan rumah tangga tersebut menuntut kita untuk berfikir kreatif dengan cara memanfaatkan kembali limbah yang dihasilkan bahkan dapat merubah limbah menjadi rupiah. Berdasarkan pemaparan di atas penulis mencoba menyusun sebuah tulisan yang berjudul “Limbah Rezekiku”, guna mencoba untuk memberikan solusi atas permasalahan tersebut.

B.  Pembahasan

a.      Pengertian limbah dan pembagiannya
Limbah adalah zat atau bahan buangan yang dihasilkan dari proses kegiatan manusia. Secara umum limbah dapat dikelompokkan berdasarkan karakteristik dan senyawa penyusunnya.
Limbah berdasarkan karakteristiknya, dibagi menjadi 4 kelompok yaitu :
1.        Limbah cair.
Limbah cair adalah segala jenis limbah yang berwujud cairan. Seperti limbah air deterjen sisa cucian, air sabun, tinja, sisa dari pewarnaan kain atau bahan dari industri tekstil dan lain-lain.
2.        Limbah padat
Merupakan limbah yang berbentuk padat dan biasanya disebut sebagai sampah. Ada beberpa contoh limbah padat yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari seperti sampah plastik, kaca, logam, kertas bangkai binatang dan lain-lain.

3.         Limbah gas .
Limbah gas yang dimaksud disini adalah limbah senyawa-senyawa kimia di udara yang berupa gas. Misalnya, karbon monoksida (CO), karbon dioksida (CO2), Nitrogen oksida (NOx), Sulfur dioksida (SOx), asam klorida (HCl), Amonia (NH3), Metan (CH4), Klorin (Cl2). Limbah gas yang dibuang ke udara biasanya mengandung partikel-partikel bahan padatan yang disebut materi partikulat.
4.        Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun)
Limbah dikatakan sebagai B3 apabila berbahaya dan beracun baik sifat maupun konsentrasinya, baik langsung atau tidak langsung dapat mencemari lingkungan hidup maupun berbahaya bagi kesehatan manusia. Limbah B3 memiliki beberapa ciri diantaranya, mudah meledak, mudah terbakar, bersifat reaktif, beracun, dapat menyebabkan infeksi, bersifat korosif, dan lain-lain.
Sedangkan limbah berdasarkan jenis senyawa penyusunnya dibagi menjadi 2 kelompok yaitu :
1.        Limbah Organik
Limbah organik merupakan kelompok limbah yang berasal dari makhluk hidup seperti tumbuhan dan hewan. Limbah ini bisa  diuraikan oleh mikroorganisme dan waktu yang dibutuhkanpun tidak terlalu lama. Limbah jenis ini biasanya  dihasilkan dari kegiatan pertanian, perikanan, peternakan, rumah tangga dan industri.
2.        LimbahAnorganik
Limbah anorganik merupakan kelompok limbah yang tidak mudah hancur atau diuraikan oleh aktivitas mikroorganisme. Limbah anorganik ada yang tidak dapat diuraikan sama sekali atau ada yang dapat diuraikan, tetapi membutuhkan waktu yang sangat lama bahkan sampai ribuan tahun. Limbah anorganik yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari seperti plastik, kaca, besi, kaleng makanan dan minuman, botol-botol bekas, pipet dan sebagainya.
b.   Limbah Rumah tangga
Limbah rumah tangga adalah limbah yang berasal dari dapur, kamar mandi, cucian, limbah bekas industri rumah tangga dan kotoran manusia. Limbah yang dihasilkan dari kegiatan tersebut dapat berupa limbah padat seperti sisa-sisa sayuran, kertas, kardus, karton, kaca, plastik pembungkus makanan dan kaleng bekas makanan atau minuman.  Sedangkan limbah cair yang dihasilkan rumah tangga diantaranya air bekas cucian dan detergen serta sabun.
c.    Pemanfaatan Limbah
Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa limbah  yang dihasilkan rumah tangga ada yang berbentuk padat dan ada juga yang berupa cairan. Limbah padat dan cair tersebut ada yang bersifat organik dan anorganik. Baik limbah organik maupun limbah anorganik sama-sama meiliki potensi untuk menimbulkan masalah bagi lingkungan hidup bahkan bagi kesehatan manusia.
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, ternyata pengelolaan limbahpun semakin berkembang. Orang tidak lagi pusing untuk memikirkan masalah limbah yang notabenennya selalu identik dengan hal-hal yang negatif seperti bau busuk, kotor, jorok, kumuh dan menjijikkan. Semua label tersebut sedikit demi sedikit mulai berubah bahkan terganti dengan kata limbah rezekiku.
Limbah rezekiku mungkin itu kata yang paling tepat untuk mengganti semua kesan negatif tentang limbah, karena dibalik bau busuk, kumuh, jorok, dan menjijikkan tersebut ternyata sampah masih bisa bermanfaat untuk kehidupan manusia bahkan dapat menjadi sumber rezeki bagi sebagian orang.
Limbah organik merupakan limbah yang mudah untuk diuraikan oleh mikroorganisme dan bisa dijadikan sebagai pupuk untuk menyuburkan tanaman. Sedangkan limbah anorganik merupakan limbah penyumbang polusi terbesar karena sulit untuk diuraikan oleh mikroorganisme bahkan ada yang tidak bisa diuraikan sama sekali. Akan tetapi,  kita tidak perlu khawatir lagi dengan masalah tersebut, sebab limbah anorganikpun masih bisa bermanfaat bahkan bisa menjadi penghasil rupiah.
Ada beberapa contoh limbah anorganik yang sering dimanfaatkan kembali atau didaur ulang seperti pembungkus plastik, pipet dan gelas minuman. Limbah atau sampah plastik adalah sampah yang paling banyak kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, baik plastik pembungkus kopi, sneck, mie instant, detergen, pengharum dan pembungkus minuman. Dengan sedikit kreatifitas limbah-limbah tersebut bisa disulap menjadi barang yang bermanfaat bagi manusia bahkan bernilai ekonomis. Limbah rumah tangga terutama pembungkus makanan, detergen dan pewangi diolah menjadi berbagai kerajinan seperti, tas, dompet dan rangsel dengan berbagai motif dan model yang menarik. Kerajina-kerajinan tersebut ternyata banyak diminati oleh masyarakat dan memiliki nilai jual yang cukup tinggi karena unik, menarik, kuat dan tahan lama.
Selain itu, gelas minuman kemasan juga dapat diubah menjadi barang yang bermanfaat seperti dibuat menjadi keranjang, tempat air, piring, atau nampan buah. Bagian gelas yang dimanfaatkan untuk membuat barang-barang tersebut adalah bagian atas dari gelas dengan diameter yang lebih besar dan lebih keras dari bagian lainnya. Gelas digunting lalu dicuci bersih dan dikeringkan. Setelah itu, potongan-potongan gelas disusun dan diikat menggunakan benang atau tali kemudian dibentuk sesuai dengan keinginan. Sedangkan bagian bawah dari gelas bisa dijadikan sebagai bunga dengan memberi warna yang berbeda-beda. Jadi, dengan sedikit kreatifitas limbah yang selalu menjadi permasalahan bahkan menyebabkan timbulnya berbagai macam penyakit bisa diatasi bahkan limbah yang sebelumnya menakutkan dan menjijikkan berubah menjadi sumber rezeki.

C.      Penutup
a.      Simpulan
Berdasarkan pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa :
1.      Tidak selamanya limbah atau sampah bisa menjadi masalah, tetapi sebaliknya limbah bisa mendatangkan rupiah.
2.      Limbah anorganik yang terbuat dari plastik bisa dibuat menjadi berbagai macam kerajinan yang bernilai ekonomis.
3.      Dengan kreativitas yang tinggi tentunya jumlah limbah yang sangat mengkhawatirkan selama ini setidaknya dapat dikurangi.
b.      Saran
Hendaknya kita selalu menjaga kebersihan, karena tubuh sehat berawal dari rumah yang sehat.

ABSENSI TOILET


1.        Pendahuluan
Toilet merupakan salah satu fasilitas yang selalu dipergunakan oleh masyarakat. Toilet yang bersih, sehat, dan wangi merupakn toilet dambaan disemua kalangan masyarakat. Tidak terkecuali pada masyarakat sekolah.
Toilet dapat dikatakan sebagai sarana kebersihan dan kesehatan pada lingkungan sekolah, karena salah satu indikator bersih dan sehatnya sebuah sekolah, biasanya dilihat dari bersih tidaknya  toilet yang dimiliki. Toilet dikatakan sebagai sarana kesehatan karena sebagai tempat membuang hajat atau kotoran yang ada dalam perut kita. Sampah yang ada dalam perut jika tidak segera dibuang dengan segera, maka akan menjadi sumber penyakit, dan gangguan kesehatan. Terlebih saat musim hujan, dimana kondisi sangat dingin, sehingga kebutuhan siswa untuk buang air kecil menjadi lebih tinggi.
Akan tetapi, realita yang tampak, kebersihan toilet  di sekolah jauh dari kata layak.  Tembok-tembok yang penuh coretan, wadah penampung air yang kecil bahkan sering kali bocor, dan bau yang sangat menyengat merupakan bukti dambaan toilet yang sehat di lingkungan sekolah jauh dari harapan.
Berdasarkan pemaparan tersebut, maka tentunya akan muncul pertanyaan-pertanyaan klasik, seperti: apa penyebab toilet sekolah jauh dari kata sehat?, bagaimana standar toilet bisa dikatakan sehat? dan yang terakhir tentunya bagaimana mengatasi permasalahan toilet sekolah yang jauh dari kata sehat?. Ketiga pertaanyaan tersebut pasti selalu muncul dibenak kita, sehingga hal tersebut harus menjadi perhatian yang serius mengingat toilet merupakan fasilitas kesehatan yang dapat mencerminkan baik atau tidaknya menejemen sekolah tersebut.  Karya tulis yang berjudul “ Absensi Toilet Sekolah ” ini akan mencoba menjawab semua pertannyaan tersebut dan mencoba memberikan sebuah solusi yang sederhana, sehingga dapat diterapkan di sekolah manapun dan diharapkan dapat meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya menjaga kebersihan toilet di sekolah.

2.        Pembahasan
a.      Toilet sekolah kok bisa jorok?
Seperti yang telah dipaparkan di atas bahwa masalah yang sering dihadapi oleh tolilet sekolah sehingga jauh dari kesan sehat dan bersih adalah: 1. Tembok toilet yang penuh dengan coretan, baik itu dengan spidol, cat, dan tape x; 2. Kondisi wadah penampungan air yang terkadang bocor dan kepala kran yang sering tidak ditutup kembali setelah digunakan sehingga memungkinkan terjadinya pemborosan air; dan 3. toilet sekolah yang mengeluarkan aroma yang tidak sedap.
Ketiga permasalah tersebut adalah permasalahan yang sering ditemukan di toilet sekolah. Permasalahan tersebut bukanlah tanpa sebab, tentunya  secara garis besar hal tersebut timbul karena kurangnya kesadaran warga sekolah terutama para siswa terhadap kebersihan toilet itu sendiri.
Permasalahan tembok toilet penuh dengan coretan, wadah penampungan air yang bocor dan kepala kran yang sering tidak ditutup kembali setelah digunakan tentunya disebabkan oleh tangan-tangan siswa yang terlalu “kreatif”. Sedangkan aroma yang tidak sedap ini disebabkan oleh sebagian besar siswa seringkali tidak membersihkan setelah membuang hajatnya.

b.      Standar toilet dikatan sehat
Menurut Kementerian Perkerjaan Umum (PU) standar toilet yang sehat adalah harus memiliki syarat sebagai berikut:
b.1 Persyaratan Ruang :
Ø  Ruang untuk buang air besar (WC)
 Panjang  = 80-90 cm, Luas  = 150-160 cm, Tinggi  = 220-240 cm.
Ø  Ruang untuk buang air kecil (Urinoir)
Luas  = 70-80 cm, Tinggi  = 40-45 cm

b.2 Sirkulasi Udara :
Mempunyai kelembaban 40 - 50 %, dengan taraf pergantian udara yang baik yaitu mencapai   angka 15 air-change per jam (dengan suhu normal toilet 20-27 derajat celcius)

b.3 Pencahayaan :
Sistem pencahayaan toilet umum dapat menggunakan pencahayaan alami dan pencahayaan buatan. Iluminasi standar 100 - 200 lux.

b.4 Konstruksi Bangunan :
Ø  Lantai, kemiringan minimum lantai 1 % dari panjang atau lebar lantai.
Ø  Dinding, ubin keramik yang dipasang sebagai pelapis dinding, gysum tahan air atau bata dengan lapisan tahan air.
Ø  Langit-langit, terbuat dari lembaran yang cukup kaku dan rangka yang kuat sehingga memudahkan perawatan dan tidak kotor.
Selain itu, Kementerian Kesehatan juga menambahkan ada tujuh syarat toilet dikatakan sebagai tolilet sehat, yaitu:
1.      Tidak mencemari air
Untuk mengupayakan agar pembuatan toilet tidak  mencemarkan air, maka langkah-langkah yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut:
Ø  Saat menggali tanah untuk lubang kotoran, usahakan agar dasar lubang kotoran tidak mencapai permukaan air tanah maksimum. Jika keadaan terpaksa, dinding dan dasar lubang kotoran harus dipadatkan dengan tanah liat atau diplester.
Ø  Jarak lubang kotoran ke sumur sekurang-kurangnya 10 meter.
Ø  Letak lubang kotoran lebih rendah daripada letak sumur agar air kotor dari lubang kotoran tidak merembes dan mencemari sumur.
Ø  Tidak membuang air kotor dan buangan air besar ke dalam selokan, empang, danau, sungai, dan laut.
  1. Tidak mencemari tanah permukaan
Untuk menghindari pencemaran tanah permukaan jamban yang sudah penuh agar segera disedot untuk dikuras kotorannya, atau dikuras, kemudian kotoran ditimbun di lubang galian.
3.      Bebas dari serangga
Jamban yang sehat adalah jamban yang terhindar dari serangga. Adapun langkah-langkah yang harus dilakukan agar jamban terbebas dari seranggga adalah sebagai berikut:
Ø  Jika menggunakan bak air atau penampungan air, sebaiknya dikuras setiap minggu. Hal ini penting untuk mencegah bersarangnya nyamuk demam berdarah.
Ø  Ruangan dalam jamban harus terang. Bangunan yang gelap dapat menjadi sarang nyamuk.
Ø  Lantai jamban diplester rapat agar tidak terdapat celah-celah yang bisa menjadi sarang kecoa atau serangga lainnya.
Ø  Lantai jamban harus selalu bersih dan kering.
Ø  Lubang jamban, khususnya jamban cemplung, harus tertutup

4.      Tidak menimbulkan bau dan nyaman digunakan
Untuk menghilangkan bau ada beberapa hal yang harus diperhatikan:
Ø  Jika menggunakan jamban cemplung, lubang jamban harus ditutup setiap selesai digunakan.
Ø  Jika menggunakan jamban leher angsa, permukaan leher angsa harus tertutup rapat oleh air.
Ø  Lubang buangan kotoran sebaiknya dilengkapi dengan pipa ventilasi untuk membuang bau dari dalam lubang kotoran.
Ø  Lantai jamban harus kedap air dan permukaan bowl licin. Pembersihan harus dilakukan secara periodik
5.      Aman digunakan oleh pemakainya
Pada tanah yang mudah longsor, perlu ada penguat pada dinding lubang kotoran dengan pasangan bata atau selongsong anyaman bambu atau bahan penguat lain yang terdapat di daerah setempat.
6.      Mudah dibersihkan dan tak menimbulkan gangguan bagi pemakainya
Untuk menghindari hal ini, langkah yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:
Ø  Lantai jamban rata dan miring ke arah saluran lubang kotoran.
Ø  Jangan membuang plastik, puntung rokok, atau benda lain ke saluran kotoran karena dapat menyumbat saluran.
Ø  Jangan mengalirkan air cucian ke saluran atau lubang kotoran karena jamban akan cepat penuh.
Ø  Hindarkan cara penyambungan aliran dengan sudut mati. Gunakan pipa berdiameter minimal 4 inci. Letakkan pipa dengan kemiringan minimal 2:100
7.      Tidak menimbulkan pandangan yang kurang sopan

c.       Absensi Toilet Sekolah
Setiap masalah pasti memiliki solusi. Absensi Toilet Sekolah merupakan strategi sederhana yang penulis tawarkan untuk mengatasi permasalahan joroknya toilet di lingkungan sekolah. Penerapannya pun cukup sederhana, yaitu dengan cara membuatkan daftar hadir atau absen siswa ketika menggunakan fasilitas toilet, dengan perkataaan sederhana setiap siswa yang menggunakan toilet sekolah harus mengisi daftar hadir yang telah disediakan. Cara ini tentunya bertujuan untuk mengontrol siswa secara intensif dalam memanfatkan fasilitas tolilet sekolah. Sehingga jika siswa yang telah memanfaatkan tolilet tersebut melakukan tindakan yang dapat membuat toilet sekolah menjadi kotor, dapat langsung mempertanggungjawabkannya.
Pengontrol Absensi Toilet Sekolah ini dijadwalkan oleh pengurus osis dan berkerja sama dengan guru piket. Kerja sama ini bertujuan agar petugas yang menjadi pengontrol ATS tersebut  tetap berjalan dengan lancar. Jika jam pelajaran sedang berjalan maka yang menjadi pengontrol ATS adalah guru piket dan ketika  jam istirahat, maka yang menjadi pengontrol ATS adalah anggota Osis yang ditugaskan. Dengan demikian, permasalahan yang biasanya melekat pada toilet sekolah bisa diatasi, baik itu berupa pemborosan air, tidak membersihkan setelah membuang hajat, dan mencoret tembok.

    3.  Simpulan dan Saran
Permasalahan yang sering dihadapi oleh sekolah terhadap toilet pada dasarnya disebabkan oleh kurangnya pengontrolan guru terhadap siswa ketika menggunakan toilet tersebut. Absensi Toilet Sekolah (ATS) merupakan strategi sederhana untuk mengontrol siswa dalam penggunaan fasilitas toilet.
Sebagai siswa seharusnya kita menjaga semua fasilitas yang terdapat di sekolah. Bertanggung jawab penuh terhadap fasilitas yang digunakan. Mari menjadi siswa yang bertanggung jawab.